Permainan Edukatif Kognitif

Standar

oleh: ita hm

Sambil berenang minum air, sambil bermain ya belajar! Permainan adalah cara paling efektif untuk orang tua atau guru mengajari anak sesuatu. Melalui permainan anak akan semangat melakukan pekerjaannya dari pada cara pembelajaran formal, anak akan cepat mengalami kejenuhan. Kelebihan lain dari cara belajar memalui permainan ialah kita bisa menciptakan permainan sesuai kebutuhan pembelajaran anak.

Banyak ragam permainan yang bisa  dilakukan  anak. Bisa dengan permainan yang sudah ada alias turun temurun seperti  permainan traditional (local) maupun permainan yang diadopsi dari luar (manca Negara). Atau pun permainan yang  diciptakan secara kreatif sesuai dengan kebutuhan  si anak.  Unsur terpenting dari sebuah permainan adalah memberikan kesempatan bagi  anak untuk menjadi diri sendiri dan menikmati masa kecilnya.

Contoh Permainan Edukatif Kognitif

 

Mengenal Huruf Alphabet (usia pre-school)

Di Pulau Mana Aku Berada?

Lokasi : lapangan basket, halaman rumah

Bahan : beberapa batang kapur (akan lebih menyenangkan dengan kapur berwarna)

Pemain : 2- 10 orang anak

Cara bermain : buatlah lingkaran-lingkaran sedang (seperti pulau)dengan tulisan huruf alphabet di dalamnya dengan jumlah alphabet sesuai banyaknya anak. Buat pula gambar binatang atau buah-buahan (di luar lingkaran) yang huruf awalnya sesuai yang ada dalam lingkaran contoh : huruf A = Anjing (proses kordinasi huruf dan kata). Kemudian minta anak berkumpul/berbaris mengdap ke arah pulau-pulau alphabet. Ajaklah berfantasi bahwa mereka sedang berada di tengah lautan dan mereka harus berenang mencari pulau untuk istirahat. Setiap anak harus menemukan satu pulau!. Setelah setiap pulau terisi anak, minta lah anak untuk menyebutkan nama pulaunya. Contoh; “Nina, kamu berada di pulau mana?”. “pulau A”. “A untuk nama binatang/buah apa?”. “Anjing”. Setiap anak melakukan hal yang sama, bila telah selesai minta mereka berpindah pulau dan mengulangi kembali pertanyaan.

Durasi permainan dapat dilakukan sesuai kebutuhan.

Mengenal Angka

Jembatan Acak

Lokasi : lapangan basket, halaman rumah

Bahan : beberapa batang kapur (lebih menyenangkan dengan kapur berwarna)

Pemain : 2-10 orang anak

Cara bermain: buatlah lingkaran secara acak dengan jarak agak sedikit berjauhan (space untuk melompat). Isilah lingkaran dengan angka 1-10(secara acak juga tapi jangan terlalu berjauhan) beserta gambar sesuai jumlah angka (anak mengenal kuantitas). Mulai lah permainan dengan bernyanyi one little Indian. uru setelah selesai dengan benar, mintalah anak mengulang menginjak/berdiri kembali di atas angka sesuai dengan instruksi guru/orang tua .

Durasi permaian dapat dilakukan sesuai kebutuhan.

Cari Pasanganku!

(mengenal huruf dan angka)

Lokasi : di dalam atau luar ruangan

Bahan : karton, spidol besar, gunting  gunting karton ukuran playing card (seperti kartu remi) buatlah sebanyak 2 kali jumlah angka atau huruf (sesuai jumlah masing-masing). Tulis huruf/angka dengan font besar diatas setiap kartu

Pemain : 2 orang anak

Cara bermain : kocok kartu angka/huruf kemudian sebar kartu dengan posisi kartu tertelungkup. Setelah semua kartu tertutup, untuk menentukan siapa yang pertama memulai permainan pemain melakukan suit terlebh dahulu. Pemenang boleh membuka satu kartu kemudian mencari kartu pasangannya, apabila huruf/kartu sama maka kartu itu menjadi miliknya, tapi bila huruf/angka kartu tidak sama maka dia harus menyimpannya kembali seperti semula. Giliran lawan yang bermain. Begitu seterusnya hingga kartu habis. Siapa yang memiliki kartu paling banyak dia yang menang.

Mengenal Nama

Siapa Namamu Sekarang?

Lokasi :lapangan basket, halaman

Bahan : beberapa batang kapur (lebih menyenangkan dengan kapur berwarna)

Pemain : 2 – 10 orang anak

Cara bermain : mintalah anak membuat lingkaran masing-masing secara berjauhan, kemudian guru mengisinya dengan nama si anak. Bila semua anak sudah mempunyai lingkaran nama masing-masing minta mereka berdiri di atasnya dan minta pula untuk mengingat setiap lingkaran milik temannya. Mulai permainan dengan bernyanyi I feel happy here, bila nyanyian telah usai guru member aba-aba dalam tiga hitungan  mereka harus berpindah lingkaran, setelah semua anak berdiri di atas lingkaran ajukan pertanyaan “Siapakah namamu sekarang?” minta anak untuk menyebutkan nama sesuai dengan nama pemilik lingkaran yang sedang dia injak (ajak anak membaca nama yang ada di dalam lingkaran).

Durasi permainan dapat dilakukan sesuai kebutuhan.

Stimulasi Pancaindra, Optimalisasi Kecerdasan Balita

Standar

“Kita mungkin tidak dapat berbuat banyak untuk mengubah apa yang terjadi sebelum bayi dilahirkan, tetapi kita dapat mengubah apa yang terjadi ketika bayi sudah dilahirkan” – Dr. Harri Chugani, Ahli Neurology dan Pediatry dari Universitas Detroit Wayal State

Banyak orang mengatakan bahwa bayi ibarat kertas putih yang masih kosong. Dia siap ditulis atau digambar apapun sekehendak penulisnya. Kekosongan itu terletak pada bagian otak atau memori bayi yang berupa neuron atau sel syaraf. Ini berarti kesempatan emas bagi orang tua sebagai ‘penulis’ untuk mengoptimalkan kekosongan memorinya dengan kecerdasan. Karena tahun pertama kelahiran bayi merupakan revolusi belajar, yang kini sering disebut dengan masa golden ages atau tahun keemasan.

Menurut riset, pada saat kelahiran bayi mengandung 100 milyar neuron (sel syaraf) yang dikra-kira sebanyak bintang dalam galaksi Bima Sakti. Pada sebelum kelahirannya, sebenarnya otak bayi telah membentuk sirkuit menurut perkiraan yang paling baik mengenai apa yang akan diperlukan bagi penglihatan, pendengaran, bahasa dan lainnya. Namun setelah kelahirannya, neuron lah yang berperan dalam dioptimalkan ‘keperluan’ tersebut. Dan neuron-neuron itulah yang diibaratkan pada kertas putih kosong di atas. Dalam kerjanya neuron-neuron itu tidak spontan lagi saling tersambung (seperti saat dalam kandungan), melainkan harus distimulasi atau dirangsang oleh pengalaman panca indranya, seperti penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman dan pengecap (rasa).

Dan tahukah anda para Ayah-Bunda? Bahwa hanya dengan satu buah jeruk kita dapat menstimulasi kecerdasan bayi? Ya, kita dapat mengenalkan jeruk secara utuh dengan mengoptimalkan pancaindra bayi. Catatan, saat anda menyebutkan bendanya dan kata sifatnya, suara harus agak ditekan dan lambat, ini upaya mempermudah perekaman pada memori bayi. Dan anda dapat memulai dengan mengatakan, “Sayang, ini namanya J-E-R-U-K (satu neuron tersambung lewat pendengaran), warnanya O-R-A-NY-E (jeruk didekatkan, satu neuron tesambung lewat penglihatan), kulinya K-A-S-A-R (jeruk disentuhkan, satu neuron tersambung lewat peraba), baunya H-A-R-U-M (jeruk dikupas, satu neuron tersambung lewat penciuman), rasanya M-A-N-I-S (air jeruk diteteskan ke lidah bayi, satu neuron tersambung lewat pengecap)”. Dan secara otomatis bayi utuh merekam benda buah bernama JERUK J. Jeruk tadi hanya satu contoh cara menstimulasi bayi. Anda dapat menggunakan buah atau benda  lain dengan cara yang sama.

Jadi semakin banyak orang tua menstimulasi balitanya, maka neuron-neuron yang kosong tadi tidak akan terbuang begitu saja. Melalui suatu proses semacam persaingan, otak akan memusnahkan sambungan neuron (sinapsis) yang jarang digunakan atau tidak pernah digunakan. Nah, sayang bukan? Salah satu cara termudah lain untuk merangsang otak anak adalah dengan membacakan cerita. Aktivitas membacakan cerita bagi anak ini mempunyai manfaat intelektual, emosional dan psikis yang dapat meningkatkan perkembangannya.

Seperti halnya dikatakan oleh Frank Neuman, Presiden Komisi Pendidikan AS mengatakan, “ Ada skala waktu bagi perkembangan otak anak. Dan tahun yang paling penting adalah tahun pertama”.

Selamat mencoba ^^

Oh Kambing…

Standar

 oleh: Ita hm

Petang itu, saat melintasi sebuah masjid di pinggiran jalan arah pulang ke kosan, saya memutuskan untuk singgah karena sebentar lagi magrib tiba. Di halaman -tepatnya parkiran mobil- masjid saya melihat berjejer lebih dari lima ekor kambing dan satu ekor sapi yang siap disembelih besok pada hari raya Idul Adha. Dan setiap kambing di lehernya bergantung  sebuah nama manusia. ‘’Mungkin itu penanda siapa pemilik hewan kurban tersebut,’’ pikir saya. Saya tersenyum saat membaca nama-nama yang bergelantungan itu, ada yang bernama Andy, Laura, Bima, Parwoto dan Saras-selebihnya saya tidak sempat membacanya, ‘’nama-nama kambing yang keren’’ lanjut saya dalam hati. Lalu tiba-tiba saya bergidik ngeri membayangkan bila nama tersebut menjadi nama sebenarnya bagi si kambing, tentu si jagal akan berkata seperti ini: ‘’Bima, ayo kemari! Giliranmu untuk disembelih!’’.  Oohh..mendengarnya pun seperti sesuatu yang biadab. Tidak berkeprihewanan apalagi berkeprimanusiaan, iihh…

Pikiran saya lalu terbawa pada sejarah adanya kurban, yaitu saat Ibrahim diminta Allah SWT mengurbankan anaknya Ismail yang sangat dicintainya. Bagaimana jadinya bila Ibarahim benar-benar menyembelih leher Ismail sebagai kurban? Mungkin mutilasi akan menjadi hal yang wajar, yang tidak lagi mengandung kengerian saat mendengarnya dan pula tidak akan dianggap tidak berprikemanusiaan dengan alasan karena itu anjuran Tuhan, naudzubillahimindzalik! .  Dan Tuhan tahu itu, makanya Dia ganti Ismail dengan seekor domba!.

Kembali pada focus pandangan saya terhadap kambing yang berjajar. Entah mengapa tiba-tiba saya merasa mellow..ini saya rasakan saat tatapan saya beradu pandang dengan seekor kambing yang bernama Bima (ingat, itu bukan nama kambing sebenarnyaJ). Ada sesuatu yang saya tangkap dari sorot matanya (ini masih tentang kambing), seperti tatapan pasrah tetapi tidak mengiba. Seolah si kambing berkata, ‘’Saya hanya seekor binatang yang dicipta Tuhan untuk disembelih dan nikmati dagingnya. Saya pasrah itu terjadi, karena itulah fungsinya saya diadakah Tuhan di bumi ini. Untuk melengkapi system hidup manusia.  Dan saat ini, saya disini menjadi kambing terpilih (dari banyaknya temannya) untuk mejadi saksi dari ketaatan manusia kepada Tuhannya. Saya bangga! karena kematian saya menjadi lebih mulia dari hanya sekedar pemanfaatan daging saya. Nanti (baca: di akhirat), manusia yang telah memilih saya  saat ini, akan saya pilih juga untuk saya hantarkan ke tempat terpilih yang Tuhan siapkan untuknya sebagai balasan dari ketaatannya..mbeekk’’.

Busyet.. saya terhenyak beberapa saat. Sungguhankah pernyataan si kambing barusan?  yang tiba-tiba saya seperti mendengarnya secara nyata? Metafora! Dan kini saya melihat si kambing tadi seperti memilki lingkaran putih di atas kepalanya dengan sayap-sayap lebar di punggungnya. Aih..seperti malaikat yang ada di gambar cerita masa kanak-kanak saya.

Beruntung suara adzan magrib dari masjid menyadarkan saya dari ‘halusinasi’ pada si kambing. Saya jadi bergidik yang kedua kali. ‘’Makanya jangan melamun saat senja, pamali!*’’ batinku sendiri dalam hati. Tiba-tiba saya merasa iri pada kambing-kambing itu. Mengapa mereka bisa lebih bermanfaat hidupnya dari pada saya? Apa yang sudah saya perbuat untuk mahluk hidup di sekitar saya? Belum ada… justru saya yang selalu memanfaatkan mereka; minta dibantu kerjain tugas, minta tolong pinjami duit, minta didengarkan kalau saya sedang bicara, minta dimengerti kalau saya lagi moody, minta dihormati karena saya ‘lebih’ dari kamu..minta di..minta di… dan masih banyak lagi. Oh..saya merasa jadi semakin bersalah dan tak berharga!  

Saya tak ingin terlarut dalam ketakberhargaan diri ini dibanding si kambing! Ingat, iri adalah tanda tak mampu (tak mampu menyamai kambing haha..).  Lekas saya bergegas mengambil wudhu dan ikut sholat berjama’ah. Lantunan ayat Qur’an yang dibacakan imam menambah getar di hati saya. Dan kali ini, dalam shalat saya ‘merasakan’ lain. Seperti rasa rendah yang tak terperi mendekati batas hina. Kehinaan sebagai manusia yang tak bermanfaat dan sebagai mahluk yang tak taat. ‘’Duh, Gusti Alloh, mohon maafkan saya dari ketidaktaatan sebagai mahlukMu. Muliakan saya dari kehinaan sebagai manusia (humanity) yang selalu memiliki pamrih terhadap setiap tindakan. Jadikan ikhlas, jujur  dan rendah hati sebagai pijakan menuju kualitas hidup, seperti Engkau muliakan mereka yang terpilih’’. Begitulah saya pinta dalam sujud diakhir shalat saat itu beriring takbir yang mulai menggema. 

Waktu beranjak semakin gelap memekat. Sementara tubuh saya masih terguncang-guncang di dalam angkot yang membawa saya pulang. Tepat di depan gang menuju kosan, saya bertemu lagi dengan segerombolan kambing. Namun kali ini saya tidak mendapatkan kalung nama di leher si kambing, begitupun tatapan matanya tak dapat saya lihat karena gelap telah mendekap. Saya hanya mengendus bau yang menyengat dan mendengar mereka mengembik, mbeekk.. Mereka seperti melangu menunggu untuk menjadi kambing yang ‘terpilih’, mungkin esok, entah lusa.

Sambil melintas di depannya, saya pun berdoa bisa menjadi ‘pemilih’ bagi mereka, dan berharap kelak (di akhirat) mereka pun akan juga memilih saya. Ah,, lagi-lagi pamrih! 🙂  wallahu’alam bishowab

Le matin, Bintaro, 17 Nov’10

Perkembangan Anak

Standar

Oleh: Ita hm

Pendahuluan

Setiap anak dilahirkan memiliki kemampuan yang ‘unik’ dimana adanya perbedaan antara anak satu dengan yang lainnya. Kondisi ini mendorong perlunya pendekatan yang tepat bagi setiap anak agar proses pembelajaran dengan baik. Hal ini penting karena akan membantu pengembangan potensi anak dimasa yang akan datang. Oleh karena itu, setiap anak pada dasarnya memiliki kebutuhan ‘khusus’ yang perlu dikembangkan secara khusus oleh orang tua maupun guru.

Aspek-aspek Perkembangan Anak

Orang tua maupun guru tampaknya perlu mengetahui aspek-aspek perkembangan anak karena akan membantu dalam melakukan pemantauan perkembangan anak sejak dini. Pemantauan (screening) tersebut bertujuan untuk mengetahui sejak dini ada atau tidaknya hambatan yang dialami anak dalam proses perkembangannya agar dapat segera dilakukan penanganan yang tepat dan cepat pada anak.

Pemantauan perkembangan yang berkaitan dengan perkembangan anak mencakup empat aspek dasar, yaitu :

  1. Perkembangan motorik (motorik kasar dan halus)
  • Keseimbangan
  • Orientasi waktu
  • Lateralisasi
  • Kecepatan reaksi
  • Deskriminasi taktil
  • Organisasi tubuh dalam ruang
  • persepsi pendengaran (auditory-motor) : mengikuti perintah, asosiasi vocal, memory bunyi, keurutan bunyi, deskriminasi bunyi, koordinasi suara.
  • persepsi penglihatan (visual-motor) : deskriminasi bentuk, gambar latar, memory visual, koordinasi motorik halus, keurutan visual, motor spatial
  1. perkembangan konseptual – kognitif
  • Resoning
  • Konsep bilangan
  • Proses aritmatik
  • Pemecahan masalah
  • Pengetahuan umum
  • Klasifikasi (deskriminasi)
  1. perkembangan sosio-emosianal
  • penerimaan sosial
  • antisipasi sosial
  • pemahaman norma
  • kematangan sosial
  1. perkembangan bahasa
  • kelancaran berbahasa
  • kosa kata (vocabulary)
  • ekspresi tulisan
  • reseptif tulisan
  • pemahaman bacaan
  • artikulasi

Ke-empat aspek ini merupakan factor yang akan mempengaruhi kemampuan belajar anak dikemudian hari. Keterlambatan (delay) maupun gangguan (dysfunction) pada salah satu aspek perkembangan anak dapat menimbulkan kesulitan belajar khusus (specific learning disabilities). 

Perkembangan Permasalahan Psikologi Anak

Permasalahan perkembangan psikologi anak balita yang sering dikeluhkan orang tua umumnya berkaitan dengan adanya keterlambatan motorik (cerebral palsy), keterlambatan bicara (speech delay), keterlambatan kognitif (mental retardation), dan keterlambatan sosio-emosional (autism). Akibatnya pada saat anak memasuki pendidikan formal SD akan mengalami kesulitan yang berkaitan dengan baca – tulis dan hitung serta kesulitan lainnya, seperti gangguan perhatian (AAD), hiperaktif (ADHD), disleksia, dispraksia, diskalkusia, dll.

untuk mengetahui gejala permasalahan psikologi anak dapat dilihat dari cirri-ciri sebagai berikut: ciri-ciri Keterlambatan Penglihatan dan Pendengaran

  1. malas membaca ataupun mendengar
  2. seringkali salah menulis du diktalam tugas menyalin ata
  3. perhatian mudah teralihkan karena reaksi dari lingkungan
  4. tampak terlihat lelah seusai sekolah

ciri-ciri AAD (gangguan perhatia) dan ADHD (hiperaktif)

  1. impulsive bertindak tanpa pertimbangan
  2. rentang perhatian dan memori tergolong kurang
  3. tidak bisa diam
  4. mengganggu teman di kelasnya
  5. melamun
  6. kadang agresif
  7. tugas tidak selesai

ciri-ciri keterlambatan motorik (ceberal palsy)

  1. lamban menulis dan sering tidak selesai
  2. tubuh terlihat lemas atau kaku
  3. sering mengeluh mudah lelah saat mengerjakan tugas
  4. jatuh tanpa sebab yang jelas
  5. bicara tidak jelas

ciri-ciri keterlambatan berbicara

  1. sulit menangkap isi pembicaraan orang lain
  2. kurang lancar dalam berbicara atau mengungkapkan ide
  3. sering menggunakan bahasa isyarat
  4. menunjukan gejala gugup atau gagap dalam bicara
  5. pendiam dan cenderung menyendiri

Penutup

Dari uraian di atas maka perlunya pemantauan perkembangan psikologi yang dilakukan oleh orang tua maupun guru yang bertujuan untuk mendeteksi keterlambatan maupun gangguan pada anak sejak dini. Oleh karena itu orang tua, guru, terapis maupun tenaga professional sangat dibutuhkan dalam menentukan dan membuat program intervensi pendidikan yang tepat bagi anak. Hal ini karena setiap anak adalah unik dan memiliki kebutuhan khusus sehingga perlu didekati secara khusus pula.

kali ini tulisannya agak serius hehe.. 🙂

Bintaro, 6 Novermber 2010

Dia Beribadah Dengan Caranya

Standar

oleh: ita hm

Dia terasing. Setiap mata menatapnya sinis, bahkan sebagian jijik. Bajunya yang lusuh bergelayut di tulang  bahunya yng menonjol kering. Sesekali dia menggaruk-garuk kepalanya. Rambutnya pendek sedikit mohak (agak botak) bagian belakang kanan, potongan rambut yang tak beraturan. Rokok yang tinggal separuh terus mengepul dari sela jemarinya yang ringkih dengan kuku-kuku yang menghitam tak terawat.

Dia, seorang perempuan. Matanya memangawasi setiap orang yang lewat di depannya. Dia terus meracau tanpa bertujuan. “Ah.. hujan lagi.. hujan lagi.. panas lagi.. panas lagi.. nya neng geulis[1]!” katanya pada gadis belia yang sedang berjalan. Si gadis hanya melirik lalu bergidik. Sambil menoleh ke teman disampingnya, dia memiringkan telunjuk kanannya di atas dahi “Sedeng!” katanya pada si teman.

Dia, perempuan tak bernama. Terus menceracau berkicau seperti burung-burung yang bertengger di pepohonan rindang di sekitarnya. Menambah keramaian tempat rekreasi tersebut. Sesekali dia bersenandung “Ada apa dengan muuuu….[2] O..o..”, lalu “Dua kali lebaran engkau tak pulang-pulang…[3]”. Kepalanya mengangguk-angguk. ‘’Hmm..boleh juga koleksi lagu-lagunya’’ gumamku sambil mesem-mesem.

Dia, perempuan setengah baya. Yang menarik perhatianku karana ocehan-ocehannya. Keberadaannya tak jauh dari tempatku beristirahat seusai shalat ashar, jarak 50 meter mungkin. Dari teras mushola ku amati dia. “Dia tidak gila!” bathinku. Temanku dan mereka yang mengatakan perempuan itu gila salah! Dia waras! Dia sehat! Hanya jasadnya saja yang tidak terurus karena ‘mimpinya’ mati. Perempuan itu tak ‘bermimpi’!.

Dia, perempuan yang tak punya mimpi. Menatap galak seorang bapak gendut yang berlalu dihadapannya. Dia berteriak “Saya mah kan cuma bertanya, kalau bapak tidak mau jawab tong susurungut atuh![4] Bener gak..bener gak.. he.he.he..”.  lanjutnya masih dengan berteriak dan mata nanar. Sepertinya dia tersinggung oleh si bapak gendut itu. Dia berteriak lagi. Kali ini dia memanggil seseorang “Ceu, kopi hiji! Mending ngopi lah[5] ! ‘’. Si Euceu pun segera tiba dengan segelas kopi ngebul di tangannya.

(Tampaknya) Sambil menunggu kopinya mendingin. Perempuan terasing itu menatapku, dia tersenyum.. senyum persahabatan, sungguh! Tiba-tiba dia berjalan menuju kami ke teras mushola. Aku membalas senyumnya sambil mengangguk (tanda aku menghargai dia sebagai perempuan dewasa). Temanku dan beberapa orang pengunjung mushola memandang curiga, mungkin khawatir akan terjadi sesuatu (karena dia tetap dianggap kurang waras), mungkin keributan karena ulah aneh perempuan itu.

Mataku awas memandangi setiap geraknya. Bukan curiga atau khawatir tapi penasaran apa yang akan dia perbuat di mushola? Tepat di depan teras mushola, perempuan itu membungkukkan badan. Subhanallah… mulutku berucap lirih melihat apa yang dikerjakan perempuan itu. Dia merapihkan sepatu dan sandal pengunjung mushola yang berserakan. Dia susun sesuai jenisnya, sepatu/sandal perempuan berdampingan dengan sepatu/sandal laki-laki. Hebatnya lagi, dia arahkan sepatu menghadap luar, untuk mempermudah si pemakainya, persis seperti santri-santri di Darut Tauhid pesantren milik Aa Gym.

So, don’t judge the book by the cover!

Mungkin saja perempuan itu hendak mengatakan “Aku waras.. aku sadar.. hanya aku terbuang!!”

Wallahu’alam bissawab

Ciseéng- Bogor, Minggu, 21 February 2010


[1]Gadis cantik

[2] Lagu Peterpen

[3] Lagu dangdung Bang Toyyib

[4] “Gak usah misuh-misuh dong!”

[5] “mbak, kopi satu! Lebih baik ngopi lah!”

Mengenalkan Puisi Pada Anak

Standar

Oleh : ita hm

Pengalaman pertama saya mengajari menulis puisi pada anak-anak tidak mudah. Perlu beberapa hari saya mempersiapkan bahan ajar tambahan (selain bahan ajar baku yang sudah ada) yang memungkinkan anak memahami secara mudah konsep dasar penulisan sebuah puisi. Pada level ini anak baru mengenal puisi, yaitu pada pembelajaran bahasa Indonesia kelas II semester II.

Mengenalkan puisi pada anak berarti kita akan mengenalkan sastra kepada mereka. Puisi adalah bagian dari ‘tubuh’ sastra, yang merupakan bentuk ekspresi dominan dalam sastra.  Dominasi itu bukan karena bentuk syairnya, tetapi kedalaman makna dari kata-kata yang mengandung kedalaman makna atau arti.

Lantas apa itu sastra bagi anak? tentu kita tidak akan menjawab dengan penjelasan arti sastra seperti yang apa kita pahami secara dewasa. Dengan memberi tahu anak bahwa cerita yang sering mereka dengar atau baca saat menjelang tidur pun merupakan salah satu hasil dari karya sastra. Lalu tanyakan pada anak, “apakah kalian merasa terhibur setelah mendengar atau membacanya ?” dan jika jawabannya ‘’iya !’’, katakan “nah.. itulah sastra!” Kumpulan kata atau bahasa yang bisa dinikmati dan menghibur.  

Lalu, bagaimana cara mengajari anak menulis puisi dengan mudah dan baik ?

Ada baiknya kita memulainya dengan menggunakan model puisi yang mudah ditiru. Ini upaya mempermudah anak untuk memahami makna yang tidak terlalu rumit. Meski dalam pelajaran sastra (bahasa Indonesia) mungkin anak telah mengenal rima, bait, irama dan unsur kebahasaan.

Bagian I

Mencari Ide Dasar

Unsur terpenting sebuah puisi adalah gagasan atau ide ! bukan rima, struktur atau bahasa yang digunakan. Dan ide BUKAN topik atau isi dari puisi.

Kita mungkin bisa menulis tentang pohon dengan apa adanya pohon. Alhasil, kita akan menghasilkan sajak yang biasa. Puisi hendaknya MENCERAHKAN dan MENGHIBUR pembacanya (seperti arti sastra yang kita kenalkan sebelumnya). Puisi yang tanpa inde dasar akan sekedar menjelaskan hal yang sudah jelas, dan itu akan membuat orang bosan!.

Puisi yang punya IDE menyatukan pikiran dan perasaan orang-orang disekitar kita, ikut membentuk persepsi (pandangan) kita terhadap dunia. Merangsang imajinasi dengan khayalan yang membangun. Seperti karya pujangga besar, dikenang bukan karena bahasanya, tapi karena IDE BESAR yang disandangnya.

Lalu bagaimana menemukan ide?

yuks.. menggali Pengalaman Pribadi

Latihan I :

Susunlah pengalaman yang paling mengesankan (menyenangkan ataupun menyedihkan).

Contoh: 1. Saat ultah

                2. kehilangan sahabat

                3. manjadi juara

Karya yang baik tidak pernah sekedar deskripsi atau pengamatan, tetapi bertolak dari epifani / pengalaman besar.

Tambahan teori:

  • Epifani adalah titik pencerahan. Dimana pikiran kita serasa menyatu dengan alam. Pada saat epifani, kita merasakan sesuatu yang sublime dari pengalaman itu. Seperti solusi. Misalnya,  ‘’ah, aku tahu kenapa dia meninggalkan ku. Karena aku terlalu sibuk egois dalam berteman !’’
  • Pengalaman Besar adalah titik pencerahan dimana tubuh dan diri kita menyatu dengan alam. Ini biasanya terjadi ketika kita dalam posisi kemenangan atas sesuatu ; misal, atlet yang memenangkan lomba, sedang jatuh cinta dll.

Kondisi epifani dan pengalaman besar ini yang akan menggirang anak pada ide besar untuk sebuah puisi.

Latihan II

Merenungkan pengalaman yang mengesankan. Tanyakan pada diri, apa yang dapat dipelajari dari pengalaman itu? Pengalaman tersebut akan membantu puisi terasa jujur. Dan tampak mengandung unsur kebenaran.

Contoh :

      epifani : dirampok di jembatan penyebrangan di Jakarta

      pengalaman besar : belajar melukis dengan maestro

contoh puisi, amatilah!

DI Suatu Malam di Hamburg

Oleh :  Putu Oka Sukanta

Di sebuah gang di Hamburg

Kiri kanan akuarium

Dehumanisasi senyum

Siluet zaman mengiris-ngiris daging jantungku

Atau erang sekarat ketidakberdayaan?

Di ujung gang Doris dan Karen

Menabrakkan Tanya

Kerongkongan kering aku terdiam

                ‘’aku sakit

                Aku menjadi sakit’’

Tercecer irisan-irisan daging jantungku

Di tepi tebing Hamburg

Malam dingin winter tiba-tiba gelisah, resah

                                                (Tembok Matahari Berlin; November 1999)

Pertanyaan:

–          apa pengalaman besarnya?

–          Ini epifani atau pengalaman puncak?

Nah, sekarang ajak anak untuk menulis sebuah puisi berdasarkan epifani dan pengalaman besarnya! Selamat berkarya.. 🙂

 Bintaro, 4 September 2010

sapa kata

Standar

Hidup seperti putaran kosmik, menjadi rangkaian cerita yang tak terputus. Kesatuan rasa yang solid, yang meninggalkan tilas untuk dijejaki para musafir selanjutnya. Dan aku, satu dari musafir yang mencoba menyulam hari dengan detik, menit dan jam, lalu memulasnya dengan warna dhuha dan senja. Tidak terlalu indah memang..tapi cukup untuk layak dinikmati.

Pada Jejak Hari aku bercerita. Merangkai kata menjadi kalimat. Bercerita tentang langkah yang coba dimaknai, dihargai dengan keikhlasan atas nama cinta.

Pada   Le Petit Poem aku bersenandung. Mengunduh rasa menjadi kata. Me-metafora-kan cinta pada rumput dikelebatan hutan.